Selasa, 27 Juni 2017

Penawar iri
Jadi bagaimana kalau kita dihinggapi rasa iri? Sebuah jawaban yang membuat saya terkesan ada di buku karya ulama Al-Ghazali yang kalau tidak salah berjudul Rahasia Shalat. Diceritakan tentang seorang raja yang berkeliling di wilayahnya dan kemudian bertemu dengan seorang rakyatnya yang miskin papa. Alkisah, si raja yang baik hati itu kemudian memberikan rumah kepada orang tersebut. Tak lama kemudian datanglah orang lain yang juga miskin papa, kali ini sang raja memberinya seekor kuda putih yang sangat bagus.
Lalu orang pertama tersebut protes kepada raja, “Raja, kenapa kau beri orang itu kuda putih yang bagus?”
“Memangnya kenapa?” tanya raja keheranan.
“Raja,” kata orang pertama tadi,” bukankah aku yang punya rumah lebih pantas bila juga memiliki kuda putih itu? Bukankah lebih pantas bila kuda dipasangkan dengan rumah sehingga menjadi lengkap?” demikian jelas orang tersebut.
Apa yang Anda rasakan ketika mendengar argumen orang ini? Memalukan! Jelas sangat tidak pantas, seseorang yang hanya diberi rumah (sudah untung diberi rumah oleh raja, dan itu juga karena kemurahan hati sang raja bukan karena prestasi orang tersebut), eh masih pula minta kuda. Benar-benar tak tahu malu, diberi hati minta ampela. Memangnya dia punya prestasi apa sehingga sang raja ‘wajib’ memberi pula dia kuda? Memangnya apakah salah kalau raja memberikan kuda putihnya untuk orang lain? Kalaupun dia berprestasi, memangnya raja harus memberi kuda? Memangnya raja sudah janji demikian?
Itulah analogi yang pas sekali dengan kehidupan kita ini. Selama ini semua yang kita dapat dan kita miliki sering dianggap murni prestasi kita. Memangnya Tuhan tidak punya peran? Selama ini juga kita selalu merasa berhak atas suatu hasil sesuai dengan keinginan kita. Memangnya Tuhan menjanjikan secara jelas hal itu? Kalau kita pintar, memangnya Tuhan menjanjikan kita akan kaya? Kalau kita tampan, memangnya Tuhan berjanji memberi istri cantik? Bahkan kalau kita berdoa memangnya Tuhan janjikan akan dikabulkan selalu dalam bentuk yang kita minta? Tidak ada janji seperti itu. Yang ada adalah, bila kita berilmu maka Allah akan mengangkat derajat kita, dan itu bukan berarti berwujud kekayaan. Derajat yang tinggi (di mata Tuhan) bukan berwujud kekayaan, pangkat yang tinggi, atau ketenaran. Kalau menurut saya, derajat yang tinggi salah satunya adalah nama baik seseorang, yang karena keberadaannya itu orang lain di sekitarnya menjadi senang dan diam-diam bersyukur karena orang tersebut ada dan mendoakannya. Itulah janji yang Tuhan berikan, bahwa orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya. Janji Tuhan lainnya adalah kalau kita bertakwa, maka akan diberi jalan keluar dari kesulitan dan rizki dari arah yang tak disangka-sangka. Janji Tuhan juga bila kita meminta pasti dikabulkan, asalkan kita menjalankan perintah-Nya, namun tidak dijanjikan diberi dalam bentuk seperti kemauan kita. Tidak pernah Tuhan janjikan wujud-wujud fisik, namun yang dijanjikan adalah yang non-fisik seperti derajat di mata Tuhan dan pertolongan atas kesulitan-kesulitan dalam kehidupan. Dan janji Tuhan itu pasti ditepati.
Jadi kalau kita mengalami iri negatif (berupa munculnya protes kepada Tuhan kenapa kita tidak diberi nikmat seperti orang lain, atau bahkan dengki yaitu harapan agar orang lain kehilangan nikmat yang dimiliki) tentu ini disebabkan karena : kita merasa berhak atas nikmat itu! Perasaan ini bisa muncul dari kesombongan (merasa lebih baik daripada orang lain), serta menganggap dunia ini serba berkekurangan (sehingga kalau nikmat itu sudah jatuh ke orang lain, maka akan berkurang jatah nikmat untuk kita).

Ada tiga kiat sederhana untuk mengelola iri hati.

Kiat pertama, cukup dengan bertanya kepada diri sendiri, “Memangnya siapa aku ini, boleh merasa lebih tahu dari Tuhan?” Memangnya siapa aku ini yang bisa menganggap bahwa wajah tampan harus ketemu wajah cantik, otak pintar ketemu dengan pangkat tinggi, kerja keras harus ketemu dengan kekayaan? Memangnya siapa aku ini merasa punya hak menuntut hadiah dari ‘Sang Raja’ sesuka-suka hati?

Dulu sekali ada teman saya yang berwajah biasa-biasa saja, eh istrinya cantik. Hebohlah teman-teman yang lain (termasuk juga saya, haha). Lalu saya berpikir, emangnya siapa saya yang merasa pantas menilai si anu harus menikah dengan si anu. Si anu karena cantik mestinya memilih si anu yang tampan, biar pantas. Sejelek-jeleknya milih saya saja, jangan si itu. De el el. Memangnya siapa saya ini, yang bisa membuat keputusan bagi orang lain (ya si gadis cantik itu) dalam menentukan cintanya? Memangnya siapa saya ini, yang pantas menilai bahwa si anu itu karena tidak tampan maka tidak berhak istrinya cantik? De el el. Jadilah saya sadar diri, ini gangguan iri negatif, isi hasutan buruk dalam hati. Astaghfirullah. Kalau memang ingin, ya cari, usaha saja, nggak usah iri.

Kiat kedua, kita harus yakin bahwa nikmat Tuhan itu berkelimpahan. Dunia ini serba berkelimpahan. Kalaupun banyak orang lain sudah diberi nikmat, Tuhan masih punya banyak jatah stok buat kita ini. Tuhan Maha Kaya, tak pernah kekurangan. Jadi tak pelu bersikap negatif dengan milik orang lain, biar saja, toh masih banyak stok buat kita. Pertanyaannya adalah, harus menjadi seperti apa kita agar Tuhan memberi hadiah nikmat yang sama buat kita? Biarkan saja orang lain dengan apa yang dimilikinya, kalau juga ingin lebih baik kita fokus pada mengusahakan nikmat buat kita sendiri. Dunia ini berkelimpahan. Kalau rumput tetangga tampak lebih hijau, coba evaluasi jangan-jangan kita memang tidak merawat rumput kita dengan baik. Sirami dong. Kalau ternyata memang tanah kita tandus, ya dipupuk, kalau memang susah dipupuk, ya berhijrahlah (berpindahlah), siapa suruh Anda di situ? Jangan-jangan rumput kitapun sama hijaunya, tapi kita tidak sadar!

Pernah saya berpikir, kok saya ini milih kerja jadi guru. Kan enak kalau kerja di perusahaan besar. Seorang teman pernah berkomentar, “Orang sepintar kamu ini karirnya pasti bagus di perusahaan besar,” katanya memberi sugesti. Lah, jangan-jangan iya! Tapi, jangan-jangan tidak juga. Saya memiliki ‘kemewahan-kemewahan’ saya sendiri dengan kondisi yang sekarang, yang mungkin akan berbeda ketika bekerja di perusahaan besar itu. Tapi, jangan-jangan di perusahaan besar juga memang betul enak kondisinya (jadinya saya iri). Nah, kan sama-sama tidak tahu. Jadi, kalau memang tidak puas dengan kondisi sekarang (karena tanahnya tandus), dan tidak juga menemukan cara membuat lebih enak (dipupuk tetap tandus), ya pindah saja. Memangnya siapa suruh saya di sini? Ternyata jawabannya : saya yang memilih untuk di sini, jadi guru. Dan setiap pilihan membawa konsekuensinya masing-masing. Kalau tidak suka dengan konsekuensinya, ya silahkan pindah saja, dunia ini luas.

Kiat ketiga. Pilih-pilih apa yang membuat kita iri. Maksudnya, pilih saja sesuatu yang bisa kita pengaruhi kondisinya. Misalnya, iri terhadap prestasi orang lain. Prestasi bergantung pada usaha kita, jadi kalau kita iri terhadap prestasi orang lain kita bisa mengusahakan hal yang sama seperti orang lain itu. Yang salah misalnya, iri pada ketampanan Tom Cruise. Ketampanan itu sudah pemberian dari sono, sedikit sekali pengaruh dari usaha kita.

Secara tak sadar kita sering membandingkan, wah si anu mobilnya bagus, dia memang kerja di Telkomsel (misalnya). Kalau Anda juga di Telkomsel tentunya Anda layak membandingkan demikian. Kalau tidak di Telkomsel, ya jangan dibandingkan, kondisinya beda kok. Kalau Anda dosen, ya pantasnya membandingkan diri dengan dosen yang lain. Kalau Anda karyawan perusahaan besar, ya bolehlah membandingkan dengan karyawan yang lain. Tentu saja kita pilih pembandingan yang bisa kita pengaruhi, dengan tujuan untuk mendorong diri kita ini agar juga punya prestasi yang sama. Memilih untuk membandingkan kecantikan atau ketampanan pasangan termasuk jenis pembandingan yang keliru. Kan setiap orang dikaruniai fisik yang berbeda dan kondisi yang beda? Nah, ketampanan itu adalah sesuatu yang unik sehingga tak layak dibandingkan. Lebih tepat kalau kita membandingkan bahwa si anu itu merawat diri (berhias, tampil cerah), yang kemudian kita ikuti dengan prestasi yang sama (merawat diri, tampil cerah). Karena mampu kita pengaruhi, maka iri hati tersebut dapat kita ubah menjadi iri positif.

Jadi 3 kiat sederhana itu adalah : rendah hati terhadap pemberian Tuhan (jangan suka menilai, bertindaklah netral), yakin nikmat itu berlimpah (masih banyak nikmat buat kita, hindari dengki), dan benar memilih pembandingan yang layak (yaitu yang bisa kita pengaruhi).

Iri itu boleh kok. Iri hati positif itu boleh, sedangkan iri hati negatif itu yang dilarang. Jadi, kalau kita mengalami rasa iri, yang perlu kita lakukan adalah menyadari bahwa boleh jadi kita ini memang belum pantas atas nikmat itu. Yah, mungkin saja karena berbagai hal yang kita tidak tahu, dan Tuhan yang lebih tahu tentang itu. Selanjutnya, kita coba ubah semua bentuk iri negatif itu menjadi iri positif, yaitu dorongan untuk berprestasi maksimal yang mudah-mudahan membuat Tuhan berkenan lalu memberi kita hadiah yang sama. Iri positif itu dianjurkan loh, bukankah ada hadits, “Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” Nah, kalau iri terhadap prestasi amal orang lain, jelas ini iri yang sangat positif.
Jadi, selamat menjadi iri, iri yang positif!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar