Senin, 26 Juni 2017

SEDIKIT MENGUPAS TENTANG IRI DENGKI

Tiga Sumber Segala Dosa


Nabi SAW bersabda, ”Tiga hal yang merupakan sumber segala dosa, hindarilah dan berhati-hatilah terhadap ketiganya. Hati-hati terhadap keangkuhan, karena keangkuhan menjadikan iblis enggan bersujud kepada Adam, dan hati-hatilah terhadap tamak (rakus), karena ketamakan mengantar Adam memakan buah terlarang, dan berhati-hatilah terhadap iri hati, karena kedua anak Adam (Qabil dan Habil) salah seorang di antaranya membunuh saudaranya akibat dorongan iri hati.” (HR Ibn Asakir melalui Ibn Mas’ud).
Jiwa manusia diliputi oleh sifat takabur pada saat manusia merasa memiliki kelebihan, baik berupa ilmu pengetahuan, harta benda, ataupun jabatan. Dalam keadaan seperti ini, setan tidak akan tinggal diam, dia akan membisikkan dan memasang perangkap untuk menjerumuskan manusia dengan melakukan tindakan yang tidak terpuji. Seperti, mencela, menghina, dan merendahkan orang lain.
Sifat kedua yang diingatkan pada kita untuk mencermatinya adalah sifat tamak (rakus). Sering kali kita melihat betapa rakusnya manusia dalam mempertahankan apa yang sedang dalam genggamannya, baik berupa harta, kekuasaan, ataupun kedudukan. Sama sekali ia tidak mau berbagi dan hanya mau dinikmati sendiri. Ia tidak pernah merasa cukup dan tidak pernah bersyukur atas apa yang diperolehnya.
Padahal, Allah SWT menjanjikan dan mengingatkan berulang kali kepada manusia bahwa sekecil apa pun perbuatan baik yang kita lakukan tidak akan sia-sia. ”Barang siapa yang mau berbuat baik walau sebesar biji dzara pun Allah SWT akan membalasnya.” (QS Alzalzalah [99]: 7).
Ketiga, hasud atau iri hati. Dengki atau iri hati adalah perasaan tidak rela atau tidak suka melihat orang lain mendapatkan kebaikan atau kenikmatan. Ketika dalam diri manusia telah tertanam sifat dengki, ia akan menghalalkan segala cara untuk menghancurkan orang yang ia dengki. Ia tidak senang melihat orang lain sukses, pintar, hidup bahagia, dan lebih kaya darinya. Sikap seperti ini akan menghapus segala bentuk kebaikan yang selama ini ia peroleh. Perbuatan baiknya akan sia-sia karena dalam dirinya terdapat sifat iri hati.
Takabur, tamak, dan hasud merupakan tiga perangai buruk yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan yang tidak terpuji. Karena itu, Rasulullah SAW selalu mengingatkan kepada kita untuk menjauhi tiga hal yang menyebabkan manusia terjerumus dalam tipu daya setan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Senang melihat Orang Susah dan Susah Melihat Orang Senang

Judul kalimat diatas adalah sesuatu hal yang sering dilihat dan rasakan ditengah-tengah masyarakat dimana melihat seseorang atau sekelompok orang berhasil atau memiliki kelebihan timbul rasa tidak senang dari kelompok lain. Begitu juga sebaliknya apabila seseorang atau sekelompok orang mengalami musibah atau kesusahan, maka kelompok lain juga senang.

Perasaan atau perbuatan demikian adalah perbuatan yang tidak terfuji dihadapan Allah.SWT, agama Islam mengelompok sifat-sifat manusia tersebut pada 3 kelompok:
1. Sifat Sombong
2. Sifat Dengki
3. Sifat iri Hati
semua sifat itu adalah tidak baik adanya, sifat ini dapat menjerumuskan manusia kepada perpecahan

Kamis, 22 Juni 2017

lebaran tibaaa

"Makanan Khas Lebaran"
Hasil gambar untuk masakan khas lebaran
Setelah satu hari penuh Anda menahan lapar dan haus saat berpuasa Ramadhan, pasti akan menyiapkan hidangan yang spesial. Beberapa makanan khas Lebaran, bahkan bisa dibilang hanya ada saat Ramadhan berikut ini, bisa jadi inspirasi Anda menyajikan menu berbuka puasa.
1. Bongko Kopyor
Bongko Kopyor berasal dari Gresik, berisi nangka, pisang, sagu mutiara, kelapa kopyor, dan roti tawar. Saat penyajian, bahan-bahan tersebut disiram dengan santan dan gula, serta disajikan menggunakan daun pisang.
2. Gulai Siput
Sudahkah Anda mencoba Gulai Siput? Gulai berbahan utama siput sawah ini adalah menu berbuka khas Tanjung Pinang, Riau, lho. Selain siput, gulai ini juga berisi daun pakis, pucuk daun ubi, daun keladi, dan terong.
3. Ketan Bintul
Menu asal Serang ini berisi nasi ketan yang dihaluskan dan disajikan dengan taburan serundeng. Ketan Bintul juga sering disajikan dengan potongan daging berkuah gulai.
4. Mie Glosor
Mie dibuat dari adonan tepung sagu dan kunyit, sekilas terlihat mirip dengan mie kuning ini berasal dari Bogor. Namun, tekstur mie ini lebih kenyal dari mie kuning. Mie disajikan dengan tambahan sambal kacang, gorengan, dan kerupuk.
Pakat adalah menu berbuka khas Tapanuli, berbahan utama rotan muda. Rotan muda berukuran 1 meter dibakar selama sekitar 1 jam. Kemudian, dikupas dan diambil bagian dalam yang berwarna putih. Bagian dalam rotan muda tersebut ditambah dengan bumbu-bumbu dan santan kelapa. Hhhmmm unik sekali ya!
6. Sate Susu
Menu unik ini berasal dari Bali. Sate susu menjadi menu wajib yang selalu diburu saat menjelang buka puasa. Sate ini sebenarnya dibuat dari daging susu sapi, dan disajikan bersama sambal plecing khas Bali. Sate ini akan menambah stamina, lho, ketika dikonsumsj. Sama seperti saat kita mengonsumsi susu sapi.
7. Sotong Pangkong
Kuliner khas Pontianak ini dibuat dari cumi yang dikeringkan, lalu dipukul-pukul. Saat Ramadhan, Sotong Pangkong banyak disajikan dan dijadikan makanan wajib. Saat penyajian, Sotong Pangkong ditemani cabai dan cuka. Rasanya? Perpaduan antara asam, gurih, pedas, dan manis.
8. Telur Mimi
Menu wajib berbuka puasa lainnya adalah Telur Mimi, yang berasal dari Kaliwungu, Kendal. Telur mimi berasal dari sejenis ikan pari bernama ikan mimi. Telur ikan mimi dimasak dan dikerok bagian isinya. Isian telur ikan mimi kemudian diaduk bersama parutan kelapa yang sudah dibumbui. Wah, cukup unik ya sajian berbuka yang satu ini.
Sumber: Sajian Sedap
1. Asal mula kata mudik
Jika menurut pada Wikipedia, mudik diartikan sebagai kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya.
Namun ternyata kata mudik ini sebenarnya merupakan singkatan yang berasal dari Bahasa Jawa Ngoko.
Kata mudik merupakan singkatan dari 'mulih dilik' yang artinya adalah pulang sebentar.
Jadi sebenarnya kata mudik ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Lebaran.
Namun seiring perkembangan, kata mudik kini telah mengalami pergeseran makna.
Mudik dikaitkan dengan kata 'udik' yang artinya kampung, desa, dusun, atau daerah yang merupakan lawan kata dari kota.
Dengan pendekatan itu, maka kata mudik diartikan sebagai kegiatan seseorang pulang ke desa atau kampung halamannya.